Sejarah FLP Wilayah Jakarta Raya

Lahirnya FLP Wilayah Jakarta Raya

Pada 15 April 2007 FLP Depok mengadakan acara silaturahmi dan mengumpulkan empat cabang FLP; FLP Depok, FLP DKI, FLP Bekasi, dan FLP Ciputat. Hadir dalam pertemuan itu Irfan Hidayatullah, Ketua Umum FLP.  Salah satu agenda pertemuan adalah pembicaraan mengenai masa depan FLP Wilayah DKI Jakarta. Sebab, selama hampir dua tahun sejak Musyawarah Wilayah pada September 2005 di gedung Penerbit Gema Insani Press, Depok, Jawa Barat yang menetapkan Arulkhan sebagai ketua Wilayah pertama, tak satu pun program dijalankan oleh kepengurusan FLP Wilayah DKI Jakarta (Jabedeci). Menurut pengakuan salah satu pengurusnya Asa Mulchias, tak pernah terjadi koordinasi di antara pengurus semenjak dibentuk kepengurusan. Ketuanya Arulkhan sendiri tidak diketahui keberadaannya, meninggalkan begitu saja kepengurusan tingkat wilayah ini—pada akhirnya diketahui dia berada di Padang, Sumatera Barat. Kondisi ini membuat gelisah sejumlah pengurus cabang yang dinaungi.

Maka, pada pertemuan tersebut FLP DKI mengusulkan agar format FLP Wilayah diubah menjadi presidium. Irfan Hidayatullah menetapkan, pembicaraan mengenai FLP Wilayah dilanjutkan hingga Musyawarah Wilayah yang akan digelar pada September 2007. Untuk mengisi kekosongan, ia memberi mandat kepada Billyantoro untuk menggantikan sementara ketua lama hingga September 2007—Musyawarah Wilayah.

Menjelang Muswil, Billy dan ketiga ketua cabang lain berkoordinasi, merencanakan kegiatan bersama yang bersifat pragmatis; bermanfaat secara langsung dalam jangka pendek. Pada 29 April 2007 keempatnya berkumpul di lobi Gedung Depdiknas untuk menyusun program kerja, di sela-sela acara world Book Day.

Nama FLP Wilayah Jabedeci usulan dari FLP DKI, nama ini dirasa perlu karena selama ini nama FLP Wilayah DKI Jakarta ‘agak mengganggu’ nama FLP Cabang DKI Jakarta. Nama ‘FLP Wilayah DKI Jakarta’ terkesan sekadar menaungi FLP tingkat cabang yang berada di Jakarta saja. Bagaimana dengan Depok dan Bekasi yang masuk wilayah Jawa Barat? Tidak elok kalau mengatakan mereka berada ‘di sekitar Jakarta’ sehingga tidak apa-apa.

Kini dalam penyebutan nama ke publik FLP DKI tidak perlu lagi mencantumkan kata ‘cabang’—untuk membedakan keberadaannya dengan FLP tingkat wilayah. FLP DKI Jakarta, lengkapnya, diucap singkat dengan sebutan FLP DKI, bukan FLP Jakarta, karena para anggotanya sudah terbiasa mengucapkan nama tersebut.

Selanjutnya pada musyawarah wilayah tahun 2009 di IPB Bogor, nama FLP Wilayah DKI kembali diubah menjadi FLP Wilayah Jakarta Raya dan terpilih ketua berikutnya yakni RW. Dodo (mantan ketua FLP Ciputat) untuk masa 2009-2011 menggantikan Rahmat HM Ketua FLP Wilayah Jabedeci sebelumnya (2007-2009). Dua tahun berikutnya, dalam musyawarah wilayah terpilih ketua baru Ahmad Lamuna (anggota FLP Jakarta) untuk periode 2011-2013. Selanjutnya pada musyawarah wilayah berikutnya terpilih Sudiyanto (mantan ketua FLP Bekasi) sebagai ketua FLP Wilayah Jakarta Raya periode 2013-2015, pada masa ini pengajian sastra, mimbar sastra, dan pesantren sastra menjadi lokomotif sastra progresif yang dijalankan. Pada musyawarah wilayah berikutnya kembali terpilih Sudiyanto sebagai Ketua FLP Wilayah Jakarta Raya untuk periode kedua (2016-2018), masa ini sastra qurani menjadi landasan gerakan revitalisasi sastra FLP.

Post a Comment